Monday, 19 May 2025

Lara

 Hari-hariku selalu ada kamu
Tak mungkin ku tak cintaimu

Suatu hari kamu memejam mata
Aku yakin senyummu esok masih milikku

Hari ini langit dan awan berpadu 
Mencipta damai untukmu

Dua September dua ribu tiga belas
Menyambutmu datang
Sembilan belas Mei dua ribu dua lima
Menyambutmu pergi

Bolehkah ini hanya mimpi?

Haruskah kutinggalkan dunia
Agar tetap bersamamu

Kembalilah
Temani jasadku yang belum mati

Sunday, 27 April 2025

Pulang

Kubuka jendela
Langit tampak muram
Seorang pria duduk tanpa suara
Murung tanpa nyawa

Waktu tak menunggu
Air selalu mengalir tanpa ragu
Seekor burung khusyuk berdoa
Pamit pada semesta

Lentera kuning menari
Merayakan sunyi
Merelakan mentari

Cicak cicak asik bercinta
Mengisi keheningan
Menyeduh kesedihan

Jiwa jiwa mati
Kembali mati
Memeluk nisannya sendiri 

Thursday, 27 February 2025

Tirai

Dalam keheningan kutelan penderitaan
Dalam kesunyian kuteguk segala kepahitan
Diatas peraduan air mengalir dalam darah

Merahku terhisap dalam tabung
Air menetes sepersekian detik
Memanipulasi pondasi raga

Matahari sedikit redup
Di atas sofa angin menyelinap dalam tulang
Dunia sedikit menghitam

Diatas peraduan putih
Dikelilingi tirai hijau
Kembali merayakan lara

Merahku semakin sering tak kembali
Selang menuju vena bertambah
Tak jarang dingin merambat dalam selang

Rendah suhu ruang menusuk tulang
Deru kereta layang meracau keheningan

Perempuan berseragam biru sering datang
Sekedar memastikan
Perempuan berseragam hijau datang
Berbekal asupan

Setiap pagi medikus terkenal datang
Memberi suntikan moral

Thorax radiologi, ultrasonografi
Urin, fases, lab
"Semuanya bagus" terucap merdu dari mulut medikus

Dua pekan merayakan lara
Sepekan bersembunyi di balik tirai

Rintik hujan mengantar kembali ke sarang
Senang sedih bersatu
Menyaksikan kecintaanku memburuk
Sendirian, kesepian
Tak terawat
Tak tersentuh kasih sayang

Maaf
Maafkan aku

Wednesday, 15 January 2025

Pasung

Kaki dan tanganya terikat
Lehernya terjerat
Bahagianya terpasung

Setiap langkahnya perih
Jerih payahnya tak berwujud
Jiwanya kian meredup

Sumur deritanya semakin dalam
Luka batinnya semakin bernanah

Seorang perempuan berbicara pada cermin
Haruskah bersahabat dengan kemalangan?
Haruskah berteman kepedihan?

Di mana letak bahagia?
Apa tak pantas kubahagia?

Lelah menangis ia tertidur hingga bermimpi
Seorang pangeran datang
Berupaya melepas rantai di lehernya
Namun sang penguasa menghalau
Jangan bebaskan!
Dia akan mengabdi padaku seumur hidupku!

Jangan membawanya pergi!
Keringatnya sangat berarti untukku!
Tak peduli dia tak bahagia di sini!
Tak apa jika dia harus tetap menderita!

Seekor cicak terpeleset dari langit-langit kamar
Hinggap di wajah perempuan
Membangunkan dan membuyarkan mimpinya

Ia kembali berbicara pada cermin
Haruskah aku tetap hidup?
Aku telah berkali kali mati dibunuh kenyataan

Setiap malam
Air mata menjadi penghantar tidur
Dan kesedihan menyelimuti dengan sangat mesra
 
Haruskah kuakhiri semuanya sekarang?